Sabtu, 07 November 2015

Segelas Kopi

Seorang pria muda datang pada ibunya dan mengeluh tentang banyak permasalahan dalam kehidupannya. Tetapi ibunya hanya diam saja, seolah tidak ingin mendengarkan keluh kesahnya. Si Pemuda terlihat kaget dengan sikap ibunya, di hatinya ada sedikit jengkel, ia terus-terusan mengeluh tentang permasalahan nya kepada ibunya.
Si Ibu tetap terdiam, tanpa bicara sang ibu masuk ke dapur, sang anak masih terus bercerita sambil mengikuti sang Ibu. Sesampainya di dapur Sang ibu menyalakan kompor yang memiliki tiga tempat untuk meletakan panci, lalu ia meletakan 3 panci yang masing-masing diisi air, kemudian pada masing-masing air yang di masak itu ia masukan wortel pada panci pertama, telur pada panci kedua  dan kopi bubuk di panci ketiga.
Setelah 20 menitan dan air di dalam panci mendidih, sang ibu mematikan api, lalu meniriskan wortel ke dalam sebuah mangkuk, telur pada mangkuk lainnya, serta ia menuangkan air kopi tersebut ke dalam sebuah cangkir.
Sang Ibu Lalu ia bertanya kepada anaknya, “Apa yang kau lihat, Nak?”
"Wortel, telur, dan kopi” jawab si anak.
Sang Ibu mengajaknya mendekat dan memintanya merasakan wortel itu. Ia melakukannya dan merasakan bahwa wortel itu terasa lunak. Sang Ibu lalu memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia mendapati sebuah telur rebus yang mengeras.
Terakhir, Sang Ibu meminta anaknya tersebut untuk mencicipi aroma  kopi. Ia tersenyum ketika menghirup dan mencicipi kopi dengan aromanya yang khas. Setelah itu, si anak bertanya, “Apa arti semua ini,  Ibu?”
Sang Ibu  menerangkan bahwa ketiganya telah menghadapi ‘kesulitan’ yang sama, melalui proses perebusan, tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda. Wortel sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, wortel menjadi lembut dan lunak. Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras. Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, bubuk kopi merubah air tersebut.
“Kamu termasuk yang mana Ketika kesulitan mendatangimu? bagaimana kau menghadapinya? Apakah kamu wortel, telur atau kopi?
“Apakah kamu adalah wortel yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah, menjadi lunak dan kehilangan kekuatanmu.  Atau apakah kamu adalah telur, yang awalnya memiliki hati lembut? Dengan jiwa yang dinamis, namun setelah permasalahan datang silih berganti maka hatimu menjadi keras dan kaku? Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kamu menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku? Atau kamu adalah bubuk kopi yang merubah air panas yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasa yang maksimal, ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat.”
“Jika kamu seperti bubuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, kamu akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmu juga membaik.”

Kemudian sang ibu menyambung pembicaraannya, “Sangat mudah untuk bersyukur saat keadaan baik-baik saja Nak, Tapi apakah kita dapat tetap percaya saat pertolongan Tuhan seolah tidak kunjung datang? Seperti pada wortel, telur, dan kopi tersebut, ada 3 reaksi orang saat didatangi masalah yaitu:  pertama ada yang menjadi lembek, suka mengeluh (seperti wortel) dan mengasihani diri sendiri. Kedua ada yang mengeras (seperti telur), marah dan berontak kepada Tuhannya, dan yang ketiga Ada juga yang justru semakin harum dan enak (seperti kopi), yang menjadi semakin kuat dan percaya pada-Nya.

Pesan moral:
Ada kalanya Tuhan  sengaja menunda pertolongan-Nya dengan tujuannya agar kita belajar percaya dan setia, Karena tidak pernah ada masalah yang tidak bisa Tuhan selesaikan..
Selamat menikmati Secangkir Kopi di Malam Minggu……………..!!!!!!!!!!

Sabtu, 31 Oktober 2015

AIR DAN GARAM

Seorang Guru Sufi mendatangi seorang seorang muridnya yang akhir-akhir ini wajahnya selalu murung. Kemudian ia bertanya :
Guru         : Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu? .
Murid        :Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya, jawab sang murid muda.
Guru         :   (terkekeh)Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.
                     (Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa segelas air dan segenggam garam sebagaimana yang diminta gurunya)
Guru         :Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke dalam ari di dalam gelas itu itu, Setelah itu coba kau minum airnya sedikit.
                      (Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.)
Guru         :Bagaimana rasanya?
Murid        : Asin, dan perutku jadi mual, (dengan wajah yang masih meringis)
Guru         : (terkekeh melihat muridnya)
                 Sekarang kau ikut aku. (Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka.)
                 Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau.(pinta sang guru)
Murid        : (menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan gurunya, begitu pikirnya dalam hati sang murid)
Guru         : Sekarang, coba kau minum air danau itu, (sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau)
Murid        : (menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya, terasa air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya)
Guru         :  Bagaimana rasanya?
Murid        :Segar, segar sekali, (sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana . Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah).
                     Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.
Guru         :Terasakah rasa garam yang kau taburkan tadi?
Murid        :Tidak sama sekali, (sambil mengambil air dan meminumnya lagi.
Guru         : (tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.)
                  Nak, Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah,  sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, yang bebas dari penderitaan dan masalah, walaupun dia seorang Nabi sekalipun”.
Murid        : (terdiam, mendengarkan)
Guru         :Tapi Nak, rasa `asin dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya hati yang menampungnya. Jadi, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan hati  dalam dadamu itu sebesar danau yang mampu menghilangkan rasa segenggam garam yang kau tabor tadi”


Semoga bisa membuka pikiran, dan menjadikan yang kesulitan membuka hatinya, percayalah tuhan tidak memberikan ujian melebihi batas kemampuan kita,,  Keep positive thinking, be the positive man!!!!

Rabu, 28 Oktober 2015

BALON


Dalam suatu acara seminar yang dihadiri oleh sekitar 50 peserta, tiba2 sang Motivator berhenti berkata-kata & mulai memberikan balon kepada masing2 peserta. Dan kepada mereka masing2 diminta untuk menulis namanya di balon2 tersebut dengan menggunakan spidol. Stelah itu semua balon dikumpulkan & dimasukkan ke dalam ruangan lain. Beberapa waktu kmudian, semua peserta disuruh masuk ke ruangan itu & diminta utk menemukan balon yg telah tertulis nama mereka sendiri. Mereka  diberi waktu hanya 5 menit!
Semua orang panik mencari nama mereka, bertabrakan satu sama lain, mendorong dan berebut dengan orang lain di sekitarnya sehingga terjadi kekacauan! Waktu 5 menit sudah usai, tdk ada seorgpun yang bisa menemukan balon mereka sendiri.
Setelah waktu habis, dan suasana mulai tenang, Sang Motivator meminta kepada Peserta untuk secara acak mengambil sembarang balon & memberikannya kepada orang yang namanya tertulis di atasnya. Dalam beberapa menit semua orang punya balon dengan nama mereka sendiri.
Akhirnya sang Motivator berkata, "Kejadian yg baru terjadi ini mirip dan sering terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Semua orang sibuk mencari kebahagiaan untuk diri sendiri, mirip dengan mencari balon mereka sendiri, dan banyak yg gagal.
Mereka baru berhasil mendapatkannya ketika mereka memberikan kebahagiaan kepada orang lain, mirip dengan memberikan balon tadi kepada pemiliknya". Kebahagiaan kita terletak pada kebahagiaan orang lain. Beri kebahagiaan kepada orang lain, maka anda akan mendapatkan kebahagiaan anda sendiri...

Penutup:
Rasulullah SAW memberikan wejangan:
"Barang siapa yang membantu seorang mu'min terlepas dari kesusahan di dunia, niscaya Allah akan membantunya terlepas dari kesusahan dunia dan akhirat". (HR.Muslim).

Selamat mengasah kepekaan agar kita bisa bermakna bagi orang banyak...



Minggu, 25 Oktober 2015

FILOSOFI POHON KURMA

Anda Pernah lihat pohon kurma? Ia adalah Pohon yg tumbuh di tanah kering, gersang, tandus dan kerap dihantam badai gurun yg dahsyat. Namun tetap bertahan hidup.  Kekuatan pohon kurma ada di akar-akarnya. Petani di Timur Tengah menanam biji kurma ke dlm lubang pasir lalu ditutup oleh batu. Ternyata, batu itu memaksa pohon kurma berjuang untuk tumbuh ke atas. Karena pertumbuhan ke atas mengalami hambatan, membuat pertumbuhan akar ke dalam tanah menjadi maksimal. Setelah akarnya menjadi kuat, barulah biji pohon kurma itu tumbuh ke atas, bahkan bisa menggulingkan batu yg menekan diatasnya.
Sekarang kita tahu mengapa Allah kerapkali mengijinkan tekanan hidup datang kepada umatnya, hal itu bukan untuk melemahkan dan menghancurkan kita, melainkan Allah memberikan tekanan hidup untuk membuat kita berakar semakin kuat dan kuat lagi. Tak sekedar bertahan, tetapi pada saatnya benih yg sdh mengakar kuat itu akan menjebol "batu (permasalahan)" yg datang menekan kita. Kita keluar menjadi pemenang kehidupan.

Semangat buat bibit-bibit kurma, semoga menjadi suplemen kegalauan........... hehehe

Sabtu, 24 Oktober 2015

anonim



tak perlu egois
memetakan cinta yang kita jalani
nyatanya semua  terbukti
kita tak mungkin bersama lagi

tak perlu memaksa untuk bersama
nyatanya cinta tak mesti harus selamanya berdua
lihatlah, ikatan kau dan dia,
disana menentang, merintangi cinta kita berdua

tak perlu mencela dalam diam
memaksakan cinta yang akan hanya menyakiti rasa
lihatlah pertalian engkau dan dia
lebih erat dan kuasa dari rasa di hati kita.

tak perlu berteriak
menentang keadaan rasa
karena nyatanya meski saling cinta
kita takkan pernah bersama